Senin, 09 Juli 2012

PROSES PENETASAN TELUR ITIK  secara tradisional



Setelah telur itik berkumpul baru dilap dengan lap basah dan di jemur selama ¼ jam (15 menit). Tujuannya untuk menghilangkan air dan bibit air yang melekat pada kerabang telur. Bersamaan dengan penjemuran telur tetas,perlu di lakukan penjemuran gabahnya,agar gabahnya hangat.


Selanjutnya telur itik dan gabah yang sudah siap, untuk Lapisan pertama (I)dimasukan kedalam keranjang yang telah dilapisi bagian  dalamnya dengan kertas atau plastik. Peletakan dapat dilakukan berselingan antara telur dan gabah. Pada lapisan dasar terlebih dahulu dimasukan gabah setinggi telur, selanjutnya dimasukan telur dengan posis telentang, dan terakhir dilapisi dengan kain atau kertas semen. 

Lapisan kedua (II) kembali masukan gabah, menyusul telur dan terakhir gabah lagi. Begitulah seterusnya sampai keranjang itu penuh. Pada Lapisan akhir (III) keranjang ditutupi dengan kasin atau plastik. (lihat gambar di bawah ini)




Dari samping




Seperti pada penggunaan mesin tetas, pada alat penetasan sekam ini pun telur itik perlu di bolak-balik 2 atau 3 kali sehari. Namun harus diperhatikan, agar pemanasan dan proses penetasan bisa berlangsung merata untuk semua telur itik yang di tetaskan, maka peletakkan atau susunan telur itik  ditukar. Yang tadinya ada di bagian paling atas di taruh pada lapisan bawah dan begitu seharusnya sampai susunan telur itu bertukar semua. (lihat gambar di bawah ini)







Cara Pemindahan Telur Tetas



Pada hari ke empat, telur di bolak-balik kembali, tapi tanpa menggunakan gabah kecuali pada lapisan atas dan bawah (alas). Selanjutnya di hari ketujuh, telur selain diputar-putar arahnya, juga harus diteropong untuk melihat ada tidakknya pembuahan dalam telur. Yang tidak dibuahi harus dikeluarkan dari alatpenetasan. 

Pada hari ke 11 atau 12 (lima hari setelah penyeleksian) telur sudah di anggap cukup masak. Saat itu telur dapat digunakan sebagai pengganti gabah. Maksudnya jika kita hendak menetaskan telur baru, telur yang sudah masak dapat digunakan sebagai sumber panas , jadi tidak membutuhkan gabah lagi. Caranya, telur lama dan telur baru letaknya berselang-seling.

Empat hari setelah telur masak, telur yang lama sudah dapat di ambil. Lalu diletakan di atas para-para yang beralaskan gabah setebal 10 cm dengan penutup dari karung atau kain. Saat itu pun telur dibolak-balik, dengan Interval yang lebih sering , yaitu 6 kali sehari. Untuk memudahkan pembalikan , maka satu baris dari ujung para-para di kosongkan. Dengan menyentuh ujung telur saja, maka telur itu akan bergulung membalik.
Di hari ke 28 atau 30 (hari ke 12 di para-para), telur-telur ini akan menetas secara bertahap . Setelah itu di pindahkan ke kandang dengan kapasitas 25 ekor per meter persegi.

Suhu dan Kelembaban Terkontrol, Ayam Nyaman

Selain kualitas pakan, air minum dan udara, peternak juga perlu memperhatikan suhu dan juga kelembaban pada saat brooding. Tujuannya tentu agar si ayam nyaman sehingga produktivitasnya optimal.
Sistem Thermoregulatori Ayam
Disebut juga sistem pengaturan suhu tubuh, dimana pada ayam bersifat homeotermik atau suhu tubuh ayam relatif stabil pada kisaran tertentu yaitu 40-41oC. Namun saat berumur 0-5 hari, ayam masih belum bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri. Ayam baru bisa mengatur suhu tubuhnya secara optimal sejak umur 2 minggu. Oleh karena itu, peranbrooder (pemanas) sangatpenting untuk menjaga suhu kandang tetap dalam zona nyaman ayam (Tabel 1).

Tabel 1. Suhu dan Kelembaban Udara yang Nyaman Bagi Ayam

Sumber : Ross Manual Management, 2009 dan ISA Brown Manual Management (2007)
Selain suhu, kelembaban udara (kadar air terikat di dalam udara) juga perlu diperhatikan karena kelembaban akan mempengaruhi suhu yang dirasakan ayam. Hal ini disebabkan pengeluaran panas tubuh ayam dilakukan melaluipanting.
Keterkaitan antara keduanya terhadap suhu yang dirasakan anak ayam tampak dalam Tabel 2. Dimana semakin tinggi kelembaban, suhu efektif yang dirasakan ayam juga semakin tinggi. Sebaliknya, ayam akan merasakan suhu yang lebih dingin dibanding suhu lingkungan ketika kelembaban rendah.
Tabel 2. Pengaruh Kelembaban terhadap Suhu yang Dirasakan Ayam

Sumber : Ross Manual Management (2009)
Pengaruh terhadap Produktivitas
Saat suhu dan kelembaban udara tidak nyaman, ayam akan merespon dengan berbagai cara diantaranya :
1. Saat suhu terlalu dingin
Saat suhu terlalu dingin, otak akan merespon dengan meningkatkan metabolisme untuk menghasilkan panas. Dibandingkan ayam dewasa, efek suhu dingin lebih terlihat pada masa brooding ketikasistem thermoregulatori belum optimal.
Suhu yang dingin bisa disebabkan suhu brooding yang terlalu rendah, litter dingin atau basah maupun air minum yang terlalu dingin. Peternak dapat menganalisa penyebab suhu dingin dari tingkah laku anak ayam. Ayam yang berkerumun di bawah brooder, bisa dikarenakan suhu brooder terlalu dingin. Litter yang dingin atau basah juga bisa menampakkan gejala demikian, ditambah dengan perilaku ayam yang diam, meringkuk dan kondisi kaki yang basah. Toni Unandar (konsultan perunggasan), yang mengambil dari beberapa sumber menyebutkan, jika ayam nyaman dengan suhu kandang maka dalam tempo 15 detik setelah ditebar, DOC akan melakukan aktivitas biologis lanjutan seperti bergerak, makan atau minum.

Ayam berkerumun di bawah brooder menandakan suhu yang terlalu dingin
(Sumber : Anonimous)
2. Saat suhu terlalu panas
Kasus heat stress lebih sering terjadi pada ayam dewasa karena lebih banyak menghasilkan panas sehingga lebih mudah stres. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa mekanisme pengeluaran panas pada ayam adalah panting. Mekanisme ini biasanya menjadi jalan terakhir yang dipilih ayam. Sebelumnya ayam akan melakukan perluasan area permukaan tubuh (melebarkan/menggantungkan sayap) dan melakukan peripheral vasodilatation (meningkatkan aliran darah perifer terutama di jengger, pial dan kaki).
Saat panas, konsumsi pakan akan menurun sedangkan air minum justru meningkat, sehingga terkadang terjadi feses encer serta penurunan produktivitas akibat asupan nutrisi tidak terpenuhi dan gangguan metabolisme tubuh. Kematian juga sering ditemukan terutama jika panting sudah tidak mampu menurunkan suhu tubuh secara optimal.
Manajemen Suhu dan Kelembaban
Beberapa modifikasi yang bisa dilakukan agar ayam nyaman, yaitu :
1. Membuat database suhu dan kelembaban di kandang kita
Bahasa mudahnya, pencatatan mengenai suhu dan kelembaban di kandang baik pagi, siang, sore, malam maupun dini hari. Termasuk pula respon ayam saat pencatatan, apakah ada yang panting. Dari sini akan terlihat rangkuman rentang suhu dan kelembaban ideal dimana tidak terjadi panting. Jadi ketika suhu atau kelembaban melebihi rentang ideal tersebut, peternak dapat segera bertindak.
Dalam satu kandang, minimal ada 3-5 titik untuk mengukur suhu dan kelembaban yaitu bagian depan, tengah, belakang, atas (dekat genting) dan lantai kandang. Agar lebih mudah dan cepat dalam pengamatan tempatkanThermohygrometer di tiap kandang. Untuk kandang brooder, gantungkan sebuah Thermohygrometer di chick guardsedangkan untuk kandang postal tanpa brooder, Thermohygrometer ditempatkan di bagian tengah kandang dengan ketinggian 40-60 cm.

Gunakan Thermohygrometer untuk mendeteksi suhu dan kelembaban secara akurat dan cepat
(Sumber : Dok. Medion)
2. Pengaturan kepadatan
Kandang yang terlalu padat akan meningkatkan suhu kandang. Lakukan pengaturan kepadatan maupun memperluas kandang.
3. Pemberian vitamin dan elektrolit
Vitamin C dan E akan membantu menekan efek heat stres maupun cold stress. Elektrolit akan menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh ayam. Vita Stress dapat menjadi solusi yang menyediakan keduanya.
4. Manajemen buka tutup tirai
Sistem ventilasi yang baik, sangat efektif untuk menurunkan suhu dalam kandang. Buka tirai kandang saat suhu meningkat. Saat angin bertiup kencang atau suhu turun, tirai kandang dapat diturunkan, dengan syarat bagian atas tirai tetap dibuka selebar 20-30 cm agar sirkulasi udara tetap terjaga.
5. Penambahan kipas
Kandang yang terlalu lebar serta padat ataupun daerah peternakan yang memiliki kecepatan angin kurang, dianjurkan menambahkan kipas. Kipas dapat dipasang di tengah, ujung maupun samping kandang. Kecepatan kipas mengeluarkan udara juga perlu disesuaikan. Untuk ayam dewasa, dianjurkan tidak lebih dari 2,5 m/detik sedangkan untuk masa brooding, tidak lebih dari 0,3-0,6 m/detik. Perlu diperhatikan pula bahwa angin jangan langsung mengenai tubuh ayam (minimal dipasang 20-30 cm dari lantai).
6. Sistem hujan atau kabut buatan
Sistem hujan buatan dilakukan di luar kandang sedangkan kabut buatan dilakukan di dalam kandang. Fungsinya sama-sama untuk menurunkan suhu saat cuaca mulai terasa panas, sekitar jam 10.00-14.00. Jika dinyalakan saat sudah panas (11.30-12.30), akan menyebabkan perubahan suhu yang tinggi sehingga ayam bisa semakin stres.
7. Modifikasi konstruksi kandang
Bila memiliki dana berlebih, kami anjurkan untuk merekonstruksi kandang. Idealnya ketinggian kandang 1,5-2 meter dengan jarak antar kandang ialah 1 x lebar kandang. Atap dari genting dianjurkan karena dapat menahan panas sehingga kandang lebih dingin.
8. Closed house
Bila mempunyai dana berlebih, Anda juga bisa membangun closed house sebagai solusi pamungkas meski investasinya juga relatif besar.

Kamis, 07 Juni 2012

Biosekuritas Pada Peternakan Broiler

BIOSEKURITAS PADA PETERNAKAN BROILER

 Pencegahan penyakit pada ayam sangatlah tergantung kepada program  manajemen  yang komprehensif meliputi dan merangkai seluruh kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan secara berurutan serta terus menerus.
Strategi pencegahan infeksi berbasis kepada pengadaan bibit ayam yang bebas dari penyakit  dan vaksinasi pada galur induk dan turunannya serta tingkat biosekuritas yanga tepat , merupakan bagian dari pencegahan penyakit yang sangat penting pada suatu peternakan yang menginginkan tidak hanya peningkatan produktifitas peternakan tersebut, tetapi juga peningkatan kwalitas produk yang dihasilkan dan menjamin keamanan sumber hayati bagi konsumennya.
Tulisan ini mencoba mengulas sedikit tentang biosekuritas pada peternakan broiler, barangkali diuraikan dari sisi pandang yang ideal namun keterbatasan keterbatasan dalam implementasinya diserahkan sepenuhnya kepada peternak untuk disikapi secara arif dan bijaksana.

PENGERTIAN BIOSEKURITAS :
Biosekuritas merupakan konsep sebagai bagian integral dari suksesnya sistim produksi suatu farm unggas, dalam mengurangi resiko dan konsekwensi dari masuknya penyakit baik infeksious maupun non infeksious (Sudarisman, 2000)

Menurut Phil te Winkel (1997), Biosekuritas berarti suatu sistem untuk mencegah penyakit baik klinis maupun sub-klinis sebagaimana penyakit-penyakit zoonosis yang berarti sistem untuk mengoptimalkan produksi unggas secara keseluruhan dan bagian dari kesejahteraan hewan (animal welfare).
Secara praktek di lapangan (Operasional), maka biosesekuritas  adalah semua praktek-praktek manajemen  yang diberlakukan untuk mencegah penyakit dan organisme penyebab penyakit pada ayam  yang akan masuk ke kelompok ayam di peternakan. Jadi pengertian ini lebih kepada sistem pencegahan masalah daripada pemecahan masalah.
Komponen biosekuritas termasuk didalamnya adalah manajemen dan program penentuan tata letak suatu farm, dekontaminasi, kontrol hewan liar serta vaksinasi. Secara keseluruhannya akan berdampak pada tingkat produksi dan kwalitas serta keuntungan finansial suatu usaha farming unggas.
Secara hierarkis, biosekuritas dapat dibagi kedalam tiga tingkatan yang masing- masing berpengaruh  terhadap biaya dan keefektifan seluruh program yaitu :
  1. Biosekuritas Konseptual : Tingkat pertama merupakan basis dari seluruh program pencegahan penyakit. Hal ini meliputi pemilihan lokasi, pemisahan jenis dan umur unggas, mengurangi tingkat kepadatan ternak dan pengurangan kontak dengan unggas/ binatang liar lainnya. Menghindari Lokasi yang dekat dengan jalan umum maupun fasilitas yang berkaitan dengan farm ( pergudangan, kantor dan lain lain) serta fasilitas prosesing serta kegiatan ekonomis seperti rumah potong ayam dan pasar. Ketentuan ini berhubungan dengan upaya pengendalian dan akan mempengaruhi aktifitas aktifitas lainnya yang berkaitan dengan pencegahan penyakit. Kegagalan pada tingkat ini tidak dapat segera diubah dalam menghadapi munculnya penyakit baru dan berdampak pada kerugian yang besar bahkan kegagalan usaha.
  2. Biosekuritas Struktural  :Tingkat kedua yang meliputi hal-hal yang berhubungan dengan tata letak peternakan, pemisahan secara jelas batas-batas sanitasi farm/pagar, saluran pembuangan limbah, jalan alternatif, perangkat dekontaminasi/ sanitasi ,instalasi penyimpanan pakan/gudang. Ruang penimpanan peralatan dalam kandang . Biosekurutas pada tingkat ini dapat diperbaiki atau ditingkatkan sesuai dengan nilai investasinya dan objectivitas farm.
  3. Biosekuritas Operasional : Tingkat ketiga yang merupakan implementasi prosedur-prosedur manajemen untuk pencegahan kejadian dan penyabaran infeksi di dalam peternakan. Kegiatan ini dapat disesuaikan dengan timbulnya penyakit mendadak. Peninjauan ulang prosedurnya sesuai kaidah dalam total quality management serta partisipasi lapisan manajemen serta pemantauan status kekebalan ternak terhadap suatu penyakit akan sangat menunjang biosekuritas tingkat ketiga ini.


FAKTOR PENUNJANG  KEBERHASILAN BIOSEKURITAS
Kesuksesan sistim biosekuritas dipengaruhi oleh adanya:
  1. Ketiadaan penyakit tertentu di dalam Farm
  2. Jaminan akan tiadanya resiko bagi konsumen melalui persyaratan produk yang dihasilkan
  3. Tiadanya resiko bagi pelaku bisnis melalui persyaratan lingkungan hidup yang nyaman dan sehat bagi ternaknya.
  4. Persyaratan bagi lingkungan Farm dan masyarakat.
  5. Jaminan bagi tiadanya resiko bagi operator/ karyawan ( Penyakit-penyakit zoonosis).

APA SAJA YANG PERLU DIJABARKAN  MENGENAI BIOSEKURITAS FISIK PETERNAKAN AYAM :
  • Suatu peternakan ayam, harus memenuhi kriteria lokasi farm yang ideal untuk menghindari penyebaran penyakit baik melalui udara, kontak lalu lintas (jarak antar farm, jalan dan lain-lain)
  • Rancang bangun kandang dan bangunan lain, memungkinkan kandang tidak mudah disusupi binatang liar serta mudah dicuci dan didesinfeksi.
  • Kebijakan manajemen akan Satu Unit- Satu Farm atau sistim all in-all out.
  • Adanya pemisahan dan batas yang jelas mengenai daerah sanitasi kotor dengan atau daerah sanitasi semi bersih atau bersih.Dengan demikian akan selalu ada kontrol lalu lintas baik barang, bahan maupun manusia.
  • Fam  didisain juga mengenai dekontaminasi  baik ruang sanitasi manusia dan barang, sistim pembuangan limbah baik padatan berupa ayam mati, bekas litter maupun cairan berupa bekas netralisasi desinfektan dan lain-lain.


REKOMENDASI SPESIFIK MENGENAI BIOSEKURITAS (OPERASIONAL)

BIOSEKURITAS LALU-LINTAS TERHADAP ORANG DAN BARANG :
  • Karyawan atau orang yang terlibat di bisnis ayam tidak diperbolehkan memelihara burung atau ayam di rumahnya.Masalah ini sering diabaikan dipeternakan kita.
  • Orang yang akan masuk kedalam peternakan, sebelumnya tidak mengunjungi peternakan lain seperti peternakan layer komersial atau prosesing /rumah potong unggas. Sangat mudah dipahami hal ini karena bahaya kontaminasi fisik dari orang atau peralatan yang dibawanya tersebut.
  • Orang yang memasuki lokasi peternakan  diharuskan mengikuti persyaratan sanitasi peternakan yaitu : desinfeksi spray, mandi (jika disediakan fasilitasnya), mengganti baju dan alas kaki khusus. Hal ini berlaku juga untuk sanitasi bagi barang (desinfeksi atau desinfeksi dengan ultra violet).
  • Jika memungkinkan peralatan yang tidak berkaitan kerja di peternakan, sebaiknya tidak dibawa, seperti telepon genggam , tas dan lain-lain.


BIOSEKURITAS TERHADAP PAKAN  :
Walaupun Pada peternakan broiler, ketersediaan pakan lebih banyak bergantung kepada pabrikan, Sehingga jika terjadi kesalahan nutrisi,kwalitas, maupun cemarannya peternak berada pada sisi yang lebih lemah, namun pabrik pakan harus mempunyai tanggungjawab moral dalam mengikuti Program yang ketat mengenai pencegahan penyakit selama proses produksi dan transportasinya. Karena pakan merupakan bahan yang memungkinkan masuknya agen patogen serta toxin (Salmonellosis, EDS, Dioxin, Aflatoksin dan lain-lain).

Untuk itu pabrik diharuskan mengikuti prosedur sebagai berikut :
  1. Menghilangkan atau mengurangi dampak dari resiko terjadinya kesalahan formulasi pakan (seperti misalnya kelebihan garam dan lain-lain).
  2. Melakukan pengawasan atas kwalitas bahan baku secara teratur, seperti kadar air, kadar aflatoksin, uji ketengikan, sampling terhadap kandungan mikrobiologi.
  3. Sesuai dengan permintaan konsumen untuk diberikan imbuhan tertentu sebagai pencegahan salmonellosis  serta perlakuan tertentu seperti :
  • Perlakuan pemanasan (Heat treatment (65-90 oC).
  • Crumbelling/pelleting.
  • Pemakaian Organic Acid (As.Propionat,as.format,dan lain-lain).
  1. Untuk pencegahan Jamur atau toxin disarankan pemberian Toxin binder
  2. Sanitasi Truk pengangkut pakan, baik sebelum berangkat, maupun setibanya di peternakan konsumen.


BIOSEKURITAS TERHADAP AIR MINUM

Air merupakan sumber penularan penyakit yang utama selain penularan melalui pakan dan udara. Sebagai sumber penular penyakit, maka air potensi dalam:
 Penularan penyakit bakterial seperti Salmonellosis, kolibasillosis dll,  Sebagai sumber penularan penyakit Jamur seperti Aspergillosis. Sebagai sumber penularan penyakit viral seperti Egg Drop Syndrome (EDS). Oleh karena itu perlu monitoring untuk program biosekuritas air yaitu :
  • Perlu pemeriksaan kwalitas air minimal sekali dalam setahun (meliputi pemeriksaan kimiawi dan bakteriologis).
  • Pemeriksaan secara kultur paling tidak sebulan sekali untuk menguji tingkat higienitas air minum ayam  (kwalitatif dan kwantitatif ). Pengujian yang berurut dari hulu sampai hilir diperlukan untuk mengetahui tingkat sanitasinya.
  • Sanitasi air minum ayam diperlukan tergantung dari tingkat pencemarannya. Pada umumnya orang memakai program klorinasi untuk maksud tersebut, tetapi sekarang banyak terdapat produk komersial lain seperti pemberian asam organik .Agar memperoleh manfaat dan pengawasan yang lebih baik disarankan memonitor ukuran pemberian bahan tersebut dengan peralatan yang memadai agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti resistensi kuman.

BIOSEKURITAS BINATANG LIAR/ PENGGANGGU :
Adanya binatang liar dan serangga merupakan agen penular penyakit baik secara horizontal maupun vertikal. Binatang-binatang itu menjadi induk semang bagi banyak penyakit (Fungsi reservoir), baik sebagai induk semang antara maupun definitif. Tikus dan kumbang diketahui merupakan reservoir dan faktor resiko terhadap kontrol salmonellosis. Sedang serangga diketahui menjadi transmiter terhadap penyakit-penyakit seperti : Fowl Pox, Marek’s, Cacing gelang dan pita, dan lain-lain. Burung sering menjadi biang keladi bagi penyebaran penyakit seperti ND, IB, Psitakosis, dan lain-lain.



Oleh karena itu biosekuritas terhadap binatang tersebut meliputi :
  •  Kebersihan halaman dan teras kandang serta  pemotongan rumput yang teratur. Jika diperlukan pinggir kandang selebar 2 m dibeton untuk lebih memudahkan dalam memonitor binatang tersebut.
  •  Konstruksi kandang dan ruang penyimpan pakan  tidak memungkinkan binatang-binatang secara leluasa dapat memasuki kandangatau ruangan  tersebut seperti, tikus, burung, kumbang dan lain-lain.
  •  Adanya program kontrol bagi  binatang pengerat secara berkesinambungan. Misalnya terdapatnya kotak pengumpan (Baiting Box) dipinggir kandang dengan selang 15 -20 m. Umpan tikus perlu dimonitor setiap 5 hari sekali dengan jenis umpan yang paling disukai oleh tikus.
  • Kebersihan penyimpanan pakan/gudang sehingga tidak mengundang binatang dan burung serta lalat .
  • Penyingkiran limbah kotoran ayam, sekam basah sesegera mungkin dari dalam atau pinggir kandang agar tidak menjadi tempat berbiak bagi telur lalat (Breeding place) atau sumber infeksi penyakit lain.
  •  Pemberian obat insektisida  anti lalat dan larva maupun pupa pada musim lalat (musim buah dan lain-lain).
  • Pengendalian dan pemberantasan nyamuk dan mrutu di sekitar areal perkandangan sebagai bagian dari Program pengendalian dan pemberantasan vektor penyakit seperti Leucositozoonosis, Cacar Ayam dan sebagainya.
  •  Pengendalian Ektoparasit pada ayam dengan obat-insektisida yang tidak berbahaya bagi ayam.


PROGRAM PENCUCIAN DAN DESINFEKSI KANDANG

TUJUAN :
  1.  Menghilangkan produk-produk residu dari flock sebelumnya.
  2. Menghilangkan dan mengusir binatang atau serangga dan kutu pengganggu seperti tikus, kumbang sekam (Franky), tungau dan lain-lain.
  3. Untuk menjamin kandang agar tidak mengandung agen patogen yang dapat mempengaruhi status kesehatan dan penampilan anak ayam selanjutnya.

TAHAP – TAHAP PEKERJAAN PENCUCIAN DAN DESINFEKSI  KANDANG :

  1. Segera setelah ayam diafkir, semprot semua permukaan kandang dengan insektisida yang efektif terhadap serangga sebelum serangga/ kutu, kumbang sekam (Alphatobius spp) bermigrasi ke kayu –kayu atau bahan –bahan yang memungkinkan mereka bersembunyi.
  2. Mengangkat litter / kotoran ayam keluar kandang.
  3. Kontrol binatang pengerat dengan bahan yang dianjurkan. Ketiadaan pakan ayam setelah ayam diafkir memberikan dampak kontrol dengan rodentisida makin efektif.
  4. Semua peralatan elektronik di dalam kandang dilepaskan dan disimpan.
  5. Pindahkan peralatan- peralatan kandang seperti  tempat minum, tempat pakan, sarang bertelur dan dicuci diluar.
  6. Seluruh permukaan kandang direndam/ dibasahi dengan air yang dicampuri detergen dan dibiarkan selama beberapa jam untuk kemudian dibilas dengan air biasa. Pencucian kandang dengan air biasa mulai dari atap kandang kemudian berangsur ke dinding, kayu-kayu dan kemudian paling akhir adalah lantai.
  7. Tangki air dan saluran pipa air minum juga direndam dengan bahan-bahan asam organik atau desinfektan khusus untuk air selama beberapa hari agar residu yang ada di saluran air tersebut dapat diluruhkan.
  8. Bagian luar kandang seperti teras , saluran air, kawat, atap dan halaman juga mengalami perlakuan yang sama.
  9. Jika pencucian ini telah selesai, perbaikan kandang pada bagian-bagian yang rusak dapat dilakukan.
  10. Desinfeksi Pertama dapat dilakukan terutama dengan menggunakan desinfektan yang kuat dan dapat terlarut air seperti contohnya senyawa phenol.
  11. Monitoring higienis berdasarkan total bacterial count dapat dilakukan untuk mengevaluasi efektifitas pencucian dan desinfeksi sebelumnya (Jika peternakan terhubung dengan Lab Diagnostik untuk Unggas).
  12. Litter baru (Biasanya sekam) dan peralatan kandang untuk penerimaan DOC dapat dipasang dan ditebar di dalam kandang.

  1. Desinfeksi kedua dapat dilakukan setelah tahap pekerjaan diatas selesai.
  • Jika fumigasi dengan gas campuran formalin dan PK dipakai maka ukuran triple dosis yaitu per m3 ruangan adalah sebagai berikut :
a)   KmnO4 (Kalium Permanganat  = 20 gram
b)   Formalin 38 %                       = 40 ml.

  • Jika formalin dipakai sebagai desinfektan cair perlu dibuat larutan 5 -10 % untuk dapat disemprotkan ke seluruh permukaan (dan sekam). Operator harus memakai masker gas untuk keselamatan bekerja.
  • Dapat dicampurkan pemberian insektisida untuk tungau dan kutu.
  1.  Terkadang butir 12 dapat diaplikasi setelah perlakuan butir 14. Bila monitoring menunjukkan hasil tidak memuaskan, maka desinfeksi ketiga dapat dilakukan (Biasanya bahan desinfektan adalah berbahan: BHC atau Amonium Kwartener ) .
  2. Jarak perlakuan desinfeksi terakhir sebaiknya adalah 1 minggu sebelum anak ayam tiba di kandang.
  3. Pemakaian desinfektan,insektisida,detergen atau asam organik harus mematuhi aturan dari pabrik pembuatnya.


KETERBATASAN IMPLEMENTASI BIOSEKURITAS :

  1. Keterbatasan Teknis :
  • v  Kurangnya pengetahuan dan teknologi pelaku lapangan.
  • v  Kurangnya disiplin dalam penegakan biosekuritas farm.
  • v  Kurangnya kontrol  baik kontrol dan supervisi bagi operator karyawan di lapangan maupun kontrol terhadap masalah eksternal seperti pengawasan dan pengendalian konflik dengan masyarakat sekitar. Perlu dipahami bahwa aturan biosekuritas, utamanya terhadap lalu-lintas manusia haruslah tidak pandang bulu. Aturan sanitasi yang dijalankan untuk karyawan, haruslah sama dengan aturan yang dijalani oleh manajemen puncak atau owner sekalipun.
  •  
  • Dua hal  pertama diatas sesungguhnya terkait dengan faktor manusiawi, oleh karena itu penyelenggaraan pendidikan dan atau pelatihan baik ex-situ maupun in-situ sangat mendukung dalam mengurangi tingkat keterbatasan ini serta adanya pendidikan yang baik akan melahirkan pemahaman dan penghayatan terhadap arti biosekuritas. Sedangkan penegakan disiplin pada tingkat tertentu dapat memberikan dan mendorong sikap mental dan moralitas yang lebih baik.
  • Keterbatasan Finansial.
Dalam manajemen bisnis, faktor finansial sering menjadi kendala bagi pengadaan suatu fasilitas. Oleh karena itu perhitungan akutansi yang cermat mengenai dampak ekonomis dari penyelenggaraan sistim biosekuritas di farm dapat dipresentasikan apakah implementasinya sebagian atau secara lengkap dapat diterapkan untuk farm tersebut.
  
Demikian tulisan ini, mudah-mudahan ada manfaatnya.

Sukabumi 8 Mei-2012

Ismuji K. Hadi


DAFTAR PUSTAKA :

  1. Hofstad, M.S. et all. 1978. Diseases Of Poultry. 7 th edition.
  2. Shane, M. Simon, Dr. 1993. Prevention And Control Of Infectious Bursal Disease In Asian Countries. Technical Bulletin ASA. Vol. PO 9.1993.
  3. Sudarisman Dr. 2000, Biosekuritas  Dan Program Vaksinasi. Dalam : Kumpulan Makalah Poultry Refresher Course .Tanpa penerbit.
  4. Tahseen, Abdul-Aziz, A. 1998. Field investigation of poultry diseases step by step. World Poultry – Elsevier. Vol.14. No. 7 ’98
  5. USDA, Animal and Plant Health Inspection Service. 2000. National Poultry Improvement Plan and Auxiliary Provisions. Tanpa Penerbit.
  6. Winkel, Phil te,1997.Biosecurity In Poultry Production;Where Are We And Where Do We Go?Dalam: 11th International Congress of the World Veterinary Poultry Association Abstracts. Tanpa Penerbit.

Selasa, 05 Juni 2012

Tatacara penggemukan itik jantan
Sistem pemeliharaan secara intensif ternak itik dikandangkan dan diberi pakan sesuai kebutuhan gizi yang diperlukan. Lama penggemukan 3 bulan mulai dari anak itik umur sehari sampai itik sudah tumbuh bulu secara lengkap dengan berat badan mencapai 1,6 kg (sesuai permintaan pasar). Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam penggemukkan itik jantan :
1. Pemanasan
  • Itik yang baru menetas belum mempunyai bulu yang sempurna, belum dapat mengatur suhu tubuhnya, perlu dibantu dengan memberikan pemanasan
  • Pemanasan dapat dilakukan dengan lampu minyak tanah/listrik yang diletakan dalam  kandang indukan hingga anak itik merasa hangat
  • Besarnya panas dari cuaca dan lamanya pemanasan tergantung dari cuaca setempat, biasanyapemberian pemanasan 2-3 minggu dengan suhu berkissar 30-32ยบ C pada minggu kedua,  seterusnya suhu semakin menurun seiring bertambahnya bulu
  • Cara untuk mengetahui apakah panas sudah cukup atau tidak adalah dengan melihat tingkah laku itik. Bila itik menyebar menjauh dari sumber panas berarti terlalu panas. Bila itik mengumpul dekat sumber panas, berarti masih terlalu dingin. Bila itik menyebar dengan baik, berarti panas sudah cukup.
2. Luas kandang
Bila luas kandang tidak mencukupi, maka kandang akan becek dan mungkin anak itik akan saling menginjak-injak ukuran luas kandang yang perlu disediakan :
  • Umur 0 – 4 minggu, ukuran kandang untuk 100 ekor adalah 4 m2
  • Umur 4 -8 minggu, ukuran kandang untuk 100 ekor adalah 9 m2
  • Umur lebih dari 8 minggu untuk 100 ekor adalah 16 m2
  • Pemberian alas kandang dari sekam kering atau serbuk gergaji akan sangat membantu
    mempertahankan kekeringan kandang
3. Pakan Itik
Biaya pakan merupakan biaya terbesar dalam usaha penggemukan yaitu mencapai 51,6% dari total biaya produksi. Pembelian pakan harus diusahakan seefisien mungkin tetapi memenuhi gizi dan jumlah pakan yang dibutuhkan ternak itik Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan itik :
a. Bahan pakan
Penggunaan bahan pakan lokal yang murah dan bermutu baik sangat disarankan agar usaha beternak
itik dapat menguntungkan
b. Kebutuhan gizi
  • untuk dapat hidup dan bertumbuh baik, itik memerlukan zat gizi air,protein,energi,mineral dan vitamin.
  • Kebutuhan zat gizi untuk itik jantan energi 2700 Kkal/kg dan protein 17%
  • Untuk kebutuhan vitamin, disarankan agar mengikuti kebutuhan vitamin pada sayuran ras
c. Pakan penggemukan itik jantan
  • Itik umur 1 hr - 1 minggu diberi pakan pabrikan (Poor)untuk ayam pedaging DOC dan khusus anak itik umur 1 hari air minumnya diberi gula (air gula) sampai terasa manis jambu
  • Itik umur 1 – 2 minggu ramuan pakan 50% poor + 50% dedak padi
  • Umur 3 mgg-3 bulan (panen) ramuan pakan 10% jagung giling + 50% dedak padi + 10% menir/gabah +25% keong mas/limbah ikan asin/limbah udang/ikan rucah-rucah/konsentrat + 5% daun kangkung/ganggeng/daun pepaya, dll ditambah dengan vitamin (premik untuk ayam pedaging)sesuai dosis
d. Cara Pemberian pakan
  • Dapat dilakukan dalam bentuk kering atau yang sudah dibasahi
·                              Pemberian pakan dalam bentuk kering dapat merugikan karena banyak tumpah. Pemberian pakan basah bertujuan untuk mengurangi pakan tumpah cepat basi dan berjamur.  
4. Pencegahan penyakit
  • Pencegahan penyakit harus dilakukan sedini mungkin dengan cara menjaga kebersihan lingkungandan kandang serta mencegah masuknya binatang lain kedalam lokasi peternakan. Apabila terjadi penyakit yang dianggap menular segera laporkan kepada ahli atau dinas peternakan
  • Kandang yang habis dikosongkan harus dilakukan pembersihan.
Tatacara menetaskan telur puyuh
Hari ke-1
Perlakuan penetasan telur puyuh pada hari 1:
  • Suhu mesin tetas dijaga stabil pada kisaran 98o - 100o F
  • Posisi telur datar jangan dibolak-balik
  • Lubang ventilasi ditutup rapat
  • Isi air pada bak/nampan tempat air
Hari ke-2
Perlakuan sama seperti hari ke-1
Hari ke-3
Perlakuan sama seperti hari ke-2
Hari ke-4
Perlakuan penetasan telur puyuh pada hari 4:
  • Suhu mesin tetas dijaga stabil pada kisaran 98o - 100o F
  • Posisi telur diputar (jika mesin tetas menggunakan sistem rak putar atau di balik manual jika mesin tetas menggunakan rak biasa) paling sedikit sehari 2 kali pagi dan sore.
  • Cek ketersediaan air di bak/nampan tempat air
  • Lubang ventilasi dibuka 1/2 bagian
Hari ke-5
Perlakuan sama seperti hari ke-4
  • Lakukan Peneropongan telur (Candling) dengan mengambil sampel 10 telur untuk mengetahui dan memastikan bahwa telur-telur yang kita tetaskan ada benihnya (fertile), jika dari 3-5 telur sudah dapat dipastikan fertile maka Insya Allah telur-telur lainnya mayoritas juga demikian.
  • Lubang ventilasi dibuka seluruhnya
Peneropongan (candling)telur puyuh pada hari ke-5
Hari ke-6
Perlakuan sama seperti hari ke-5
  • Cek ketersediaan air di bak/nampan tempat air
Hari ke-7
Perlakuan sama seperti hari ke-6
Hari ke-8
Perlakuan sama seperti hari ke-7
Hari ke-9
Perlakuan sama seperti hari ke-8
  • Cek ketersediaan air di bak/nampan tempat air
Hari ke-10
Perlakuan sama seperti hari ke-9
Hari ke-11
Perlakuan sama seperti hari ke-10
Hari ke-12
Perlakuan sama seperti hari ke-11
Hari ke-13
Perlakuan sama seperti hari ke-12
Hari ke-14
  • Cek ketersediaan air di bak/nampan tempat air
Perlakuan sama seperti hari ke-13
Hari ke-15
Perlakuan sama seperti hari ke-14
Hari ke-16
Perlakuan penetasan telur puyuh pada hari 16:
  • Suhu mesin tetas dijaga stabil pada kisaran 98o - 100o F
  • Posisi telur tidak boleh diputar lagi (dibiarkan sampai proses penetasan selesai).
Hari ke-17
Telur mulai menetas

  
Harap Diperhatikan :
  • Suhu mesin 105o F selama 30 menit dapat mematikan embrio.
  • Suhu mesin 90o F dalam waktu 3 sampai 4 jam akan memeperlambat perkembangan embrio
  • Sebaiknya telur yang ditetaskan tidak lebih dari 10 hari dalam penyimpanan. 
  • 105 F =  (105 - 32 )x 5 : 9 = 40.55555.....  = 40,6 celcius
  • usahakan suhu tidak lebih dari 102 f

Senin, 04 Juni 2012

Analisa kegagalan dalam penetasan telur unggas  Ada beberapa problem dalam penetasan yang sering muncul sehingga menyebabkan penetasan yang dilakukan menjadi ‘gagal’. Dari kegagalan tersebut, semestinya dijadikan sebagai pengalaman berharga dan dicari sumbernya sehingga di waktu-waktu yang akan datang tidak terjadi kegagalan kembali. Berikut kami sebutkan beberapa masalah dalam penetasan berikut analisa kegagalannya. Telur jernih dan infertil Analisa kegagalan : 1. telur tidak terbuahi karena rasio jantan dan betina tidak tepat 2. ransum induk kurang memenuhi syarat 3. pejantan terlalu tua 4. perkawinan preferensial 5. pejantan yang steril 6. embrio mati terlalu awal akibat penyimpanan yang terlalu lama Blood rings (kematian awal dari embrio) Analisa kegagalan : 1. suhu incubator tidak tepat 2. fumigasi tidak benar 3. kekurangan oksigen 4. pemutaran telur kurang banyak atau telur tidak diputar 5. penyimpanan telur terlau lama Kematian tetasan dalam shell Analisa kegagalan : 1. suhu incubator tidak tepat 2. telur tidak dibalik 3. ransum induk tidak memenuhi syarat 4. ventilasi tidak cukup 5. kemungkinan ada penyakit Telur telah mulai retak (pipping) tapi tidak mau menetas Analisa kegagalan : 1. kelembaban kurang 2. kelembaban terlalu tinggi pada tahap awal penetasan 3. ransum induk tidak memenuhi syarat Menetas terlalu cepat/lambat dan menempel Analisa kegagalan : 1. suhu yang terlalu tinggi atau rendah dan kelembaban yang tidak tepat Hasil tetasan lemah Analisa kegagalan : 1. suhu terlalu tinggi 2. bibit kurang bagus Hasil tetasan kecil-kecil Analisa kegagalan : 1. telur tetas juga kecil-kecil 2. kelembaban kurang Hasil tetasan yang tidak menentu Analisa kegagalan : 1. umur telur yang terlalu bervariasi Bentuk yang tidak normal (malformed) Analisa kegagalan : 1. suhu tidak tepat 2. pengaturan telur serta pembalikan telur tidak tepat(www.sentralternak.com.)
Faktor Penentu Penetasan Mesin penetas merupakan alat buatan manusia sebagai duplikat induk buatan. Cara kerja mesin ini sama persis tingkah laku induk betina selama mengerami telurnya. Akan tetapi alat ini mempunyai kelebihan yaitu mampu menetaskan telur dalam jumlah banyak pada saat dan waktu yang bersamaan. Akan tetapi ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus selama proses penetasan berlangsung, diantaranya : 1. Sumber panas Sumber panas dalam mesin harus terbebas dari gangguan selama proses berjalan. Apabila mesin penetas masih menggunakan sumber panas dari minyak tanah maka perlu diusahakan pengontrolan minyak tanah dan nyala apinya. Apabila sudah menggunakan listrik sebagai sumber panas maka perlu cadangan energi seperti diesel, generator atau jen set. 2. Air Air sangat dibutuhkan mesin penetas untuk mengatur kelembapan dalam ruang. Tanpa air, kemungkinan kegagalan menjadi lebih besar. Air memang berhubungan erat dengan daya tetas telur. Oleh karena itu pada saat memasuki periode kritis, air harus selalu tersedia secara maksimal. Karena pada saat periode kritis ruangan sudah tidak di buka lagi sehingga air perlu dipersiapkan ketika akan memasuki periode kritis. 3. Operator Operator adalah orang atau petugas yang melaksanakan atau melayani tugas selama proses penetasan berlangsung. Operator haruslah orang yang terampil, telaten, dan sabar. Seorang operator perlu untuk membuat catatan-catatan selama proses penetasan berlangsung. Hal ini berguna untuk perbandingan setiap dilakukan penetasan dan sebagai bahan perbandingan pada pelaksanaan penetasan selanjutnya. Beberapa hal yang harus dikerjakan selama proses penetasan berlangsung antara lain : pengaturan suhu, pengaturan kelembaban, pengaturan ventilasi, pemutaran telur, peneropongan telur, dan pengamatan periode kritis(www.sentralternak.com.)